Mengenal Masjid Jogokariyan (2) Kontribusi Pengrajin Batik dan Tenun

maghfur, 21 Jun 2019,
Share w.App T.Me

MAJUNYA usaha batik dan tenun di Kampung Jogokariyan adalah awal mula dari potret buram kehidupan para mantan abdi dalem keraton Ngayogyakarta Hadingrat. Banyak di antara mereka kemudian menjadi buruh di pabrik-pabrik tenun dan batik tersebut. 

Para keturunan ex prajurit keraton banyak yang menjadi buruh di bidang industri itu. Mereka menjadi miskin di tanah mereka sendiri seiring semakin majunya usaha batik dan tenun milik para pendatang.

Bersamaan dengan fenomena tersebut, muncullah gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang salah satunya menjadikan Kampung Jogokariyan sebagai basis pergerakan. 

Gerakan PKI disambut dengan sangat antusias oleh para mantan abdi dalem yang kebanyakan adalah petani dan buruh yang kehidupan ekonomi-nya jauh dari dikatakan baik. 

Alhasil  pada 1965, meletus Gerakan 30 September (G30S) yang banyak menangkap serta memenjarakan warga-warga sipil yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Momentum tersebut adalah masa dimana Kampung Jogokariyan dikenal sebagai sarang Komunisme. 

Selain komunis, mereka juga dikenal sebagai penganut agama Islam abangan yang lebih banyak mempraktikan ajaran Islam kejawen. Hal itu merupakan pengaruh dari lingkungan keraton yang menjadi basis kehidupan mereka sebelum pindah ke Kampung Jogokariyan.

Dibangunnya Masjid Jogokariyan di tengah latar belakang penduduk yang demikian dinilai sebagai upaya untuk menanamkan kembali nilai-nilai Islam yang kaffah kepada penduduk di Kampung Jogokariyan. 

Apalagi di kampung belum memiliki masjid. Segala aktivitas keagamaan dilakukan di sebuah langgar kecil berukuran 3 x 4 meter persegi yang berada di pojok kampung atau tepatnya terletak di RT 42 RW 11 (sekarang menjadi rumah keluarga Bapak Drs. Sugeng Dahlan). 

Ketika hari-hari istimewa bagi pemeluk agama Islam tiba, seperti bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, suasana di langgar dan di Kampung Jogokariyan sangat sepi. Dibangunnya Masjid Jogokariyan pada tahun 1966 bertujuan untuk menghidupkan kembali nuansa Islami di Kampung Jogokariyan.

Proses pembangunan Masjid Jogokariyan tidak terlepas dari kontribusi para pengrajin batik dan tenun yang ada di Kampung Jogokariyan. Mereka yang tergabung dalam kelompok Koperasi Batik “Karang Tunggal” dan Koperasi Tenun “Tri Jaya” di awal bulan Juli 1966 telah berhasil membeli tanah wakaf seluas 600 m2 yang menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Jogokariyan. 

Para pengusaha batik dan tenun itu sebagian besar adalah simpatisan partai politik Masyumi dan pendukung kegiatan dakwah Muhammadiyah. Beberapa nama yang berjasa dalam mencetuskan gagasan pembangunan masjid adalah H. Jazuri yang juga seorang pengrajin batik dari Karangkajen yang memiliki rumah di Kampung Jogokariyan. 

Haji Jazuri mencetuskan gagasan pembangunan masjid tersebut ke beberapa tokoh masyarakat seperti Zarkoni, Abdulmanan, H. Ahmad Said, Hadits Hadi Sutarno, Kanjeng Ratu Tumenggung Widyodiningrat, Ny Margono, dan lain-lain. Setelah terjadi kesepahaman antar-tokoh masyarakat tersebut, mereka kemudian mencari tanah wakaf seluas 600 m2 untuk pendirian masjid.

Panitia pembangunan masjid berpikir bahwa masjid itu akan lebih baik apabila dibangun di tempat yang strategis, tepatnya di perempatan yang ada di tengah-tengah Kampung Jogokariyan. Namun demikian, tanah strategis itu ternyata dimiliki oleh Yudo Mardoyo yang memiliki ahli waris bernama Sukadis. 

Dalam waktu bersamaan, Sukadis hendak kembali ke Kampung Jogokariyan setelah pensiun menjadi pegawai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia di Temanggung. Setelah melalui beberapa kali diskusi, Sukadis ternyata bersedia untuk bertukar tanah dengan masjid. 

Rumahnya dibangun masjid, kemudian panitia harus membangunkan rumah permanen di tanah yang ditukar. Akhirnya, pada tanggal 20 September 1965, dilakukan peletakan batu pertama di tanah tersebut dengan luas bangunan masjid berukuran 9 x 9 m2 ditambah serambi 9 x 6 m2 sehingga memiliki luas total 15 x 9 m2 yang terdiri dari ruang utama dan serambi. 

Pada Agustus 1967, bersamaan dengan momentum merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, Masjid Jogokariyan diresmikan oleh Ketua PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Kota Yogyakarta.

Dalam perajalanan waktu Masjid Jogokariyan semakin ramai dikunjungi orang untuk sholat. Para pengurus masjid pun terus mencari cara agar infrastruktur masjid mampu memenuhi antusiasme penduduk yang ingin datang ke masjid. 

Oleh karena itu di bagian sebelah selatan masjid dibangunlah sebuah aula berukuran 19 x 6 m2 yang di tengah bangunannya terdapat halaman kecil. Semakin lama, bangunan masjid tetap tidak mencukupi luapan jama’ah hingga dibangunlah serambi selatan dengan atap seng dan serambi utara dengan atap aluminum krei.

Disadari atau tidak, Masjid Jogokariyan ternyata memang tidak memiliki halaman, bahkan untuk meletakan alas kaki jamaah pun tidak ada. Ta’mir kemudian memutuskan untuk membeli tanah milik Hj. Sukaminah Hadist Sutarno seluas 100 m2. 

Dengan demikian, luas tanah Masjid Jogokariyan kini menjadi 760 m2 hingga 1978 kaena  pada 2009, Ibu Hj, Sukaminah Hadits Hadi Sutarno juga menawarkan kembali agar tanah miliknya yang di depan masjid dibeli oleh Masjid Jogokariyan. 

Begitu pula dengan Hery Wijayanto juga menawarkan tanah rumahnya untuk dibeli masjid. Dua bidang tanah tersbut kemuadian dibeli dengan harga 485 juta lalu didirikan Islamic Center Jogokariyan. 

Islamic Center tersebut terdiri dari tiga lantai dimana di lantai ke-3 terdapat 11 kamar penginapan. Lantai 2 terdapat meeting room yang digunakan sebagai badan usaha masjid. Hal itu dilakukan oleh ta’mir dalam rangka menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai masjid yang mandiri secara finansial. (maghfur/dari berbagai sumber)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu